ehh.. ga ada kerjaan ni. iseng ahh. Mau mengungkapkan recount yang agak mengenaskan..
Beberapa hari sebelum terima rapor kelas X semester 2, aku kan diajak ibuku ikut pergi ke suatu tempat. Dan awalnya aku nggak mau (sok sibuk gitu di depan ibuku). Tapi akhirnya tanpa disangka-sangka, di hari berikutnya akhirnya pantatku nempel juga tuh di kursi bis. Tepat di belakang pak supir, eksklusif dengan jatah tiupan AC paling besar dan tempat duduk puaaling luas.
Jam 08.00 -(yah sebenernya ngaret sihh. aku lupa tepatnya jam brapa)- akhirnya bis berangkat juga menuju arah barat. “what, BARAT pak supir? Actually kita berjalan ke arah TIMUR kaliii paaakkk!” (yahh, mung mbatin wae sih, aku ga berani mengutarakan ke-sotoyanku. Tapi setelah sekian lama penumpang diam saja, akhirnya salah 1 temannya ibuku nyeletuk,”Pak sopir, kita tu mau lewat mana? mau muter dulu po?”… “Lha iya ini kan ke BARAT bu!”jawab pak sopir. “Masyaallah paaakkk. daritadi itu kita ke timur!” teriak beberapa ibuk-ibuk yang ‘ketoke’ jengkel. Dan aku pun pura-pura baik-baik saja as nothing happens sambil manggut-manggut dengerin musik pake headset.
Setelah itu akhirnya si bis balik arah (yah, karna muter bis di jalan raya itu ga semudah kucing muter badan, akhirnya pak sopir minta tolong sama polisi yang baru mejeng di pinggir jalan). Yahh, saat-saat itu sudah berlalu. Tidak banyak hal yang terjadi kecuali anak-anak SD itu berteriak-teriak katrok dengan frekuensi 2 kali tiap 1 km perjalanan. (oke, jujur waktu itu mau nganterin anak SD outbond gitu). Nahh, salah satu di antara mereka ga sengaja ngenain kepalanya ibu kepala sekolah apa ya?! aku ga begitu tau, soalnya headset + lagu udah mengalihkan perhatianku (alay). Trus ibu guru berkata, “hayooo.. jangan pada ga sopan lhoo… nanti ga ‘tak’ naikin kelas!”.. wuakakag aku ngakak, “tuh dek, dengerin ultimatumnya bu guru!”
Akhirnya sensasi perjalanan jauh mulai terasa. Di beberapa km sebelum kota Banyumas, jalannya baru diperbaiki (kira-kira sepanjang 3km). Nahh, warga di situ bekerja sama untuk membantu pengguna jalan (dan untuk mendapatkan uang. Hehe). Karena jalannya ga bisa dipake untuk berpapasan, akhirnya dibuat giliran. 15 menit pertama untuk pengendara dari arah barat, dan 15 menit kemudian baru giliran kami-kami dari timur yang bisa memakai jalan. (Yoo kira-kira 15 menitanlah, soalnya waktu itu aku baru dengerin A Nightmare to Remember – Dream Theater. Durasinya 14 menit). Okeyy, bis-pun melaju dijalan lumayan berlumpur dengan aksen ‘mosing-mosing’. Berasa perjalanan offroad.
Akhirnya kita sampai di Banyumas. Awalnya aku udah tentrem soalnya ga ada acara membajak jalan berlumpur dengan bis mercy lagi. Tapi ternyata ketentramanku salah dan hanya sesaat. Oh My God, My Lord… orang-orang sini kalo naek mobil/motor ‘nggilani’ banget meenn. Seolah-olah punya stok nyawa cadangan. Alhasil, selama perjalanan membelah Banyumas itu, iman dan taqwa penumpang bis bertambah kuat, sering ‘nyebut’ dan istighfar. Pak sopir ‘wae’ geleng-geleng. Sik, ini belum klimaks!
Jalanan berganti, kita sampai di jalan naik-turun. Sebenernya biasa aja sih jalannya ‘nek’ dibanding sama naik-turunnya alas Roban, tapi karna track-record masyarakat sini yang hobi ngebut-nylenong dan lain sebagainya, yahh.. tentunya adrenalinmu akan naik mameen!
Di turunan yang agak terjal banget, bisku papasan sama 2 truk tronton gandheng. Sekali lagi “Dua TRUK TRONTON GANDHENG”. Papasan sama itu aja udah mbikin ‘kedher’ duluan, ealah malah ada mobil APV nyalip tuh 2 truk sekaligus. Sekali lagi saya ulangi saudara-saudara, “Sebuah MOBIL APV menyalip 2 TRUK GANDHENG- (yang warnanya merah gedhenya minyta ampun itu) -sekaligus di jalan menanjak yang sempit, padahal DI LAWAN ARAH ada BUS kami yang menuruni jalan tanpa persiapan mental”. Alhasil, aku yang duduk ‘pas’ di belakang sopir pun berteriaak sambil menutup mata dan memutar badanku memeluk kursi, “Aaaa.. Allah Hu Akbar, Astaghfirullah!” (memang nek mbaca kayak gini kesannya alay, tapi nek mengalami sendiri. Beuhh ‘nggilani banget’). Ga Cuma aku ternyata, bu KepSek juga ngelus dada, menghela napas dan shock. Ibuku yang duduk disebelahku hanya melotot dan ngremes tangan kiriku saking takutnya. Huhh. Untung sopirnya ga sepanik kita, bapaknya memang banting setir, bis keluar aspal tapi masih terkendali. Alhamdulillah.. “Ya Allah terimakasih,” kata ibuku setelah melenyapkan sebagian rasa shocknya.
“Itu tadi nekat banget sopirnya! ‘Nek’ mobilnya bukan APV, waktunya ga akan cukup, ‘mesthi’ nabrak!”
—Sunyi— tak ada komentar dari penumpang. Dan akupun sibuk misuh-misuh cah-cah SD yang dari awal berangkat sudah kuingetin biar ga ngayal yang buruk-buruk (bahaya, takut kejadian). Tapi selama di jalan, mereka bilang, “aduhh.. nek tabrakan pie ya?”…
Sampai di deket rel kereta api, ibuku bilang, “Tahun lalu bis kita nabrak orang pacaran di sini! Mereka asyik dan lupa daratan.” Huaahhh… kog pada kayak gitu semua ya orang sini?
Setelah itu, ada bapak-bapak bawa rumput gajah (suket gajahan sing dawa-dawa kae lhoo) langsung masuk di tengah jalan dan rumput-rumputnya nyenggol bagian depan bisku. Yah that’s all…
Pulannya, Pak asisten sopir mengusulkan ide yang menurut beliau lumayan bagus untuk memperbaiki suasana. “Nyetel lagu dangdut” Oh My God. Terjadi sesuatu yang paradoks sekali antara suara lagu dari headsetku dengan suara dangdut tahun 80-an yang keras banget. Dan akupun ikhlas menerima perjalanan pulang itu.





